Pertumbuhan Ekonomi Terendah se Sumatera, Pendapatan Pemkab Bangka Alami Tekanan Berat
By beritage |
GETARBABEL.COM, BANGKA- Melalui agenda Rapat Paripurna DPRD Kabupaten Bangka yang…
Thursday, 3 April 2025
Oleh : Abdullah Hehamahua || Penasehat KPK (2005-2013 || Aktivis dan Politikus Islam
ALHAMDULILLAH, kita jumpa lagi dalam rubrik ini: Shaum dan Ibadah Ramadhan Rasulullah SAW, seri ke-23. Semoga selama 21 hari yang telah berlalu, Al-Qur’an sudah dijadikan sebagai sumber: Hukum, Ilmu Pengetahuan, dan Teknologi.
Salah satu tolok ukurnya, kita menambah ilmu dan pengetahuan tentang sahur, ifthar, shalat, dan dzikir bersumber dari Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah SAW.
Penulis, berdasarkan pemikiran, pemahaman, penghayatan, pengamalan, dan perilaku seperti itulah, mengkomunikasikan tema, ”Al-Qur’an Sebagai Kurikulum Kehidupan Manusia.”
Al-Qur’an sebagai “Way of Life”
Pendidikan, baik formal, nonformal, maupun informal, ada silabi, kurikulum, dan metode. Ada yang terdiri dari mata pelajaran dasar, khusus/pilihan, dan tambahan. Hasilnya, diperoleh sekian SKS bagi mata pelajaran tertentu.
Ada pula yang menggunakan formulasi: mata kuliah umum dan mata kuliah konsentrasi. Pesantren atau madrasah misalnya, secara akumulatif, biasanya dikenal istilah: 60: 40, 50: 50 atau 75: 25. Maknanya, mata pelajaran agama 50% dan pelajaran umum, 50% dan sebagainya. Pendidikan umum, mulai dari SD sampai universitas, apa yang disebut sebagai pelajaran agama hanya 2 SKS.
Di sinilah awal dari kegagalan pendidikan. Hal tersebut terjadi, baik untuk pendidikan pesantren dan madrasah maupun yang dikelola Pemerintah dan swasta. Dampak negatifnya, antara lain:
1. Sekularisasi Ilmu Pengetahuan
Di pesantren atau madrasah, yang disebut pelajaran agama adalah misalnya: Mengaji, Hadis, Fiqh, Aqidah, Syariah, Bahasa Arab, dan Akhlak. Pada waktu yang sama, pelajaran umum, antara lain: aljabar (matematika), ilmu alam (fisika), ilmu bumi (geografi), ilmu hayat (biologi), sirah (sejarah), dan lain-lain.
Di sekolah umum, yang dimaksud pelajaran agama, adalah sejarah Islam dan Fiqh. Dampak negatifnya, terjadi sekularisasi ilmu pengetahuan. Sebab, terjadi pemilahan ilmu-ilmu Allah yang pernah diturunkan ke para Nabi dan Rasul.
Siapa yang berani mengatakan, matematika, fisika, dan ilmu kedokteran bukan ajaran Islam.? Padahal, matematika dahulu dikenal dengan nama Aljabar yang berarti, menghitung. Ilmu ini justru ditemukan sarjana Islam, Al-Khawarizmi (meninggal tahun 850M ). Beliau pula yang mengenalkan angka nol dan bilangan desimal yang digunakan dalam ilmu statistik.
Ilmu kedokteran, bukan ajaran Islam.? Dahulu, ilmu ini dikenal di sekolah menengah dengan nama ilmu hayat (hayat adalah bahasa Arab yang berarti hidup). Jadi, ilmu hayat artinya pelajaran yang mengajarkan bagaimana seorang manusia hidup dengan baik dan sehat. Wajar, jika bapak ilmu kesehatan pertama di dunia adalah Ibnu Sina. Beliau, di dunia Barat dikenal dengan nama Abesenia. Bukunya menjadi rujukan bagi mahasiswa kedokteran di Eropa dan Amerika.
2. Sekularisasi Kehidupan
Proses sekularisasi kurikulum seperti di atas maka terjadilah sekularisasi kehidupan. Dampak negatifnya, jika seseorang mahu menjadi orang hebat, menurutnya, dia harus menjadi dokter, insinyur, korporat, hakim, jaksa tanpa perlu belajar Al-Qur’an. Dia tidak perlu pandai ngaji. Apalagi, shalat atau shaum.
Ada pula masyarakat yang berpendapat, jika mau jadi orang hebat, harus pandai bahasa Arab, lancar membaca Al-Qur’an, rajin shalat, shaum dan berhaji. Bagi mereka, sains dan teknologi, tidak penting.
Dampak negatifnya, baik lulusan pendidikan umum maupun pesantren, sama-sama sekuler. Sebab, mereka melakukan pemisahan terhadap ilmu-ilmu Allah SWT. Padahal, doa sapujagat muslim/muslimah adalah: ”rabbana aatina fi duniya hasanah wa fil akhirati hasanah wa qina azabannaar” (Ya Rabb kami, berikanlah kebahagiaan bagi kami di dunia dan kebahagiaan kami di akhirat, dan jauhilah kami dari siksa api neraka).
Konsekwensi logisnya, seorang muslim/muslimah yang muttaqin adalah individu yang mengsinerjikan kehidupannya secara utuh. Dia tidak memilah-milah persoalan dunia dan akhirat, meskipun bisa dibedakan. Tak ubahnya magnit, bagaimana pun kecilnya, tetap ada ada kutub utara dan kutub selatan. Ia dapat dibedakan, tetapi tidak bisa dipisahkan.
3. Bencana Dunia
Sekulurasasi kehidupan seperti di atas, melahirkan pelbagai bencana. Ia bisa berupa korupsi, huru hará, peperangan, perusakan hutan dan laut serta rusaknya moral manusia. Sebab, para sarjana hanya mengutamakan salah satu aspek kehidupan, dunia atau akhirat saja. Mereka tidak menjalankan secara komprehensif, baik dalam sistem, budaya, maupun perilaku manusia sehari-hari.
Wajar, jika sejak 15 abad lalu, Al-Qur’an telah menetapkan silabi dan kurikulum kehidupan manusia, antara lain:
Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Allah); (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui. (Q.S. Ar Ruum: 30)
Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu dia memberi pelajaran kepadanya: “Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan (Allah) sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar”.Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu. Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku, kemudian hanya kepada-Kulah kembalimu, maka Ku-beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan. (Luqman berkata): “Hai anakku, sesungguhnya jika ada (sesuatu perbuatan) seberat biji sawi, dan berada dalam batu atau di langit atau di dalam bumi, niscaya Allah akan mendatangkannya (membalasinya). Sesungguhnya Allah Maha Halus lagi Maha Mengetahui. Hai anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah). Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri. Dan sederhanalah kamu dalam berjalan dan lunakkanlah suaramu. Sesungguhnya seburuk-buruk suara ialah suara keledai.(Q.S.Lukman: 13-19)
Penulis, berdasarkan ayat-ayat Al-Qur’an di atas, mengusulkan kurikulum pendidikan, sebagai berikut:
(a) Aqidah; (b) Syariah; (c) Akhlak; (d) Sirah; (e) Sains Tabii (matematik, fisika, kimia, ekonomi, IT, dan pelbagai ilmu sains lainnya); (f) Sains Manusia (sosiologi, budaya, politik, hukum, kesehatan, dan lain-lain).
Simpulan:
1. Mengimani Al-Qur’an, bermakna, ia menjadi kurikulum kehidupan. Sebab, Al-Qur’an membicarakan kepentingan individu, keluarga, masyarakat, bangsa, negara, dan antarabangsa. Maknanya, Al-Qur’an juga menjadi kurikulum pendidikan formal, informal dan non formal, secara lokal, nasional, dan internasional.
2. Target pendidikan adalah lahirnya anak didik yang bertauhid, berilmu pengetahuan, berketrampilan, berkemampuan, dan berakhlak mulia. Semuanya bisa dicapai dengan menjadikan Al-Qur’an sebagai kurikulum Kehidupan.
Marilah, mulai hari ini, anda, saya, kita semua menjadikan Al-Qur’an sebagai kurikulum pribadi, keluarga, dan kantor dalam mengoptimalkan tujuh hari teakhir Ramadhan. Dampak positifnya, peluang untuk mencapai lailatulqadar, cukup tinggi. Dampak positif lanjutannya, medali taqwa dapat diraih pada 1 Syawal nanti. In syaa Allah !!! (Masjid As-Salam, Depok, 22 Maret 2025).
Posted in SOSBUD
GETARBABEL.COM, BANGKA- Melalui agenda Rapat Paripurna DPRD Kabupaten Bangka yang…
GETARBABEL.COM, PANGKALPINANG — Kementerian Pemuda dan Olahraga, bekerjasama dengan Kementerian…
JAKARTA — Kementerian Agama merilis peluang kuliah melalui jalur beasiswa…
Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan…
GETARBABEL.COM, BANGKA — Sejumlah ASN…
GETARBABEL.COM, BANGKA — Sungguh miris…
GETARBABEL.COM, BANGKA- Kawasan hutan seluas…