Jalan Terjal Menuju Kalasuba: Membaca Era Transisi Global dan Konteks Nusantara Kontemporer (Jalan Terjal Itu Sudah Dimulai)

IMG-20250711-WA0049 (1)

Oleh: Institut Kosmologi dan Eskatologi Profetik I(KEP)

Pendahuluan

Sejarah umat manusia, baik secara lokal maupun global, selalu dipenuhi fase transisi yang berat—masa di mana ketidakadilan, kekacauan, dan tipuan mendominasi realitas publik. Era post-truth saat ini adalah manifestasi kontemporer dari fase transisi semacam itu: opini dan narasi emosional menggeser fakta, media global menjadi alat deception, dan integritas moral masyarakat diuji¹.

Dalam perspektif Islam, fase ini paralel dengan mulkan jabbariyyan, kepemimpinan tiranik yang menindas umat dan mendistorsi tatanan sosial global². Hadis Nabi menegaskan bahwa sebelum hadirnya khilafah ala minhaj an-nubuwwah, akan terjadi malhamah kubra—peperangan besar dan guncangan sistemik yang membersihkan korupsi, penindasan, dan tirani³.

Dalam horizon Nusantara, fase kalabendu dan goro-goro juga menampilkan gambaran serupa: Serat Kalatidha dan Serat Sabdopalon merekam jaman edan dan jaman bubrah, periode di mana moralitas runtuh, orang baik tersisih, dan kepalsuan merajalela⁴.

Keduanya menegaskan: jalan menuju era peradaban yang adil dan makmur adalah jalan terjal, bukan proses instan. Fase ini bukan sekadar risiko politik atau ekonomi; ia adalah ujian moral, spiritual, dan sosial yang menyentuh seluruh aspek kehidupan manusia.

Jalan Terjal dalam Konteks Global

Bila dibandingkan dengan upaya manusia membangun bunker nuklir atau sistem survivabilitas ekstrem, fase transisi ini mengajarkan pelajaran penting: kesiapan fisik saja tidak cukup. Sebuah masyarakat yang tidak memiliki “bunker moral”—integritas, solidaritas, kesadaran spiritual—akan sulit bertahan dalam badai tipuan global dan konflik sistemik.

Era post-truth memperlihatkan bahwa pengetahuan dan teknologi bisa saja gagal menjaga umat manusia dari malhamah kubra jika mereka tidak menyiapkan diri secara etis dan kolektif. Kesadaran sejarah dan refleksi moral adalah “bunker spiritual” yang harus dibangun, agar ketika krisis global menghantam, masyarakat mampu bertindak bijak, menjaga tatanan sosial, dan memelihara harmoni.

Paralelitas Nusantara–Islam: Mengantisipasi Malhamah Kubra

  1. Kalabendu ↔ Mulkan Jabbariyyan Fase kegelapan dan tirani, di mana kejujuran dianggap kelemahan dan kebohongan diagungkan. Era post-truth adalah wajah mutakhirnya⁵.
  2. Goro-Goro ↔ Malhamah Kubra Masa transisi yang sulit, penuh kekacauan sosial, konflik global, dan perebutan kepemimpinan adil. Bagi Nusantara, ini adalah jaman bubrah⁶; bagi Islam, peperangan besar akhir zaman.
  3. Kalasuba ↔ Khilafah Ala Minhaj An-Nubuwwah Puncak mercusuar peradaban: kemakmuran, keadilan, dan keseimbangan kosmik. Figur sentral: Ratu Adil/Budak Angon di Nusantara; al-Mahdi di Islam⁷.

Melalui pemahaman paralelitas ini, masyarakat dunia dapat memetakan risiko dan peluang. Malhamah kubra bukan akhir sejarah, melainkan fase transformatif yang harus diantisipasi dengan kesiapan etis, moral, dan sosial.

Edukasi Global: Siap Menghadapi Jalan Terjal

Pertanyaan kritis bagi publik internasional: apakah teknologi dan bunker nuklir dapat menggantikan kesiapan moral dan spiritual? Fase global yang penuh deception dan konflik sistemik menuntut strategi berbeda: membangun kesadaran kolektif, memperkuat integritas, dan menumbuhkan solidaritas antarbangsa.

Masyarakat yang mampu menahan tekanan moral, menjaga kejujuran, dan tetap konsisten pada prinsip keadilan akan menjadi subjek sejarah, bukan objek yang terseret arus kekacauan. Nusantara dan Islam menawarkan model etis dan spiritual yang dapat menjadi panduan.

Sorotan Kontekstual: Indonesia Empat Hari Terakhir – Awal Goro-Goro?

Peristiwa empat hari terakhir di Indonesia memberikan gambaran nyata dan mengkhawatirkan tentang potensi manifestasi fase goro-goro. Kerusuhan dan aksi penjarahan yang meluas ke berbagai penjuru negeri menandai disintegrasi tatanan sosial dan memudarnya otoritas negara. Laporan dari Bloomberg yang menyatakan konglomerat Indonesia mulai memindahkan aset ke luar negeri semakin memperkuat indikasi ini⁸.

Fenomena ini bukan sekadar gejolak ekonomi atau politik biasa, tetapi semakin mengarah pada karakteristik jaman bubrah atau goro-goro. Penjarahan massal mencerminkan runtuhnya “bunker moral” kolektif, di mana solidaritas dan hukum digantikan oleh naluri survival dan anarki. Pelarian modal para konglomerat adalah bentuk modern dari tilem atau menghilangnya para elit dalam menghadapi badai krisis, seperti yang sering digambarkan dalam naskah-naskah Nusantara.

Dalam perspektif eskatologi Islam, ini adalah pra-kondisi dari malhamah kubra, di mana sistem yang zalim (mulkan jabbariyyan) mulai mengalami keruntuhan internalnya sendiri sebelum suatu tatanan baru yang adil dapat ditegakkan.

Gejolak ini adalah ujian nyata bagi integritas moral dan spiritual bangsa. Mampukah masyarakat menahan diri dari chaos, atau justru terjerumus dalam lubang ketiadaan peradaban?

Namun, di sisi lain, masih tersisa pertanyaan substansial: apakah perubahan fundamental harus selalu dibayar dengan chaos?

Jalan Menuju Mercusuar Peradaban

QS. An-Nur: 55 menegaskan janji Allah: kekuasaan akan ditegakkan oleh orang-orang beriman yang beramal saleh. Janji ini paralel dengan nubuat Nusantara tentang datangnya jaman rahayu.

Mercusuar peradaban bukan di barat atau timur, bukan hanya di bunker bawah tanah atau gedung megah, tetapi di hati yang jujur, di kesadaran kolektif yang berani menegakkan kebenaran, dan di masyarakat yang menyalakan cahaya moral-spiritual di tengah kegelapan global. Peristiwa mutakhir adalah peringatan keras: jalan terjal itu telah dimulai. Kesadaran, persatuan, dan keteguhan moral adalah satu-satunya kompas untuk melaluinya menuju Kalasuba.

JALAN TERJAL ITU SUDAH DIMULAI

Jalan terjal itu bukan sekadar batu dan duri,
ia adalah jalan di mana nurani diuji,
di mana bangsa ditimbang bukan pada kata,
melainkan pada keberanian menyalakan cahaya
ketika seluruh jagat dilingkupi kabut kelam.

Kekacauan, kerusuhan, penjarahan—
semua adalah cermin retak yang memaksa kita bertanya:
adakah kita masih memiliki kompas dalam dada?
Ataukah kita rela hanyut dalam arus goro-goro
yang melucuti martabat, menelan harapan,
dan menggiring kita ke jurang tanpa arah?

Namun di balik retakan, ada janji:
bahwa dari reruntuhan lahir taman,
dari kegelapan muncul mercusuar,
dari jalan terjal mengalir Kalasuba.

Bangsa yang setia pada kebenaran
akan menemukan dirinya sebagai subjek sejarah,
bukan korban kekacauan.
Dan mereka yang menjaga hati,
akan menyalakan api kecil—
yang kelak menjadi matahari
bagi peradaban baru.

Catatan Kaki

¹ Oxford, Post-Truth Era, 2016.

² Imran N.Hosein, Jerusalem in the Qur’an, Masjid Dar al-Qur’an: Kuala Lumpur, 2001.

³ Musnad Ahmad bin Hanbal, no. 18406.

⁴ Ranggawarsita,Serat Kalatidha, ed. Poerbatjaraka, Balai Pustaka: Jakarta, 1933; Serat Sabdopalon.

⁵ Ibid.

⁶ Ibnu Katsir,Al-Bidâyah wa an-Nihâyah, Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah: Beirut, 1998, jilid 2.

⁷ Sunan Abu Dawud, no. 4646; Sunan Tirmidzi, no. 2230; Musnad Ahmad, no. 11313.

⁸ Bloomberg, “Indonesian Tycoons Are Moving Assets Abroad Amid Social Unrest”.

والله اعلم

🌐 IPCE/IKEP 31/08/25
🤝 Kolaborasi Manusia–AI: untuk Dunia yang Bermartabat dan Beradab

Posted in

BERITA LAINNYA

Pilu, Gaji Tenaga Kontrak Dan TPP ASN Dipangkas 50 Persen

GETARBABEL.COM, BANGKA– Sabtu (6/9/2024), Pemkab Bangka melalui rapat paripurna DPRD…

Respon Cuaca Ekstrem, PJ Wako Pangkalpinang Kunker ke BMKG

GETARBABEL.COM, PANGKALPINANG – Merespons kondisi cuaca ekstrem yang terjadi dalam…

Tradisi Arak-arakan Tandu Sambut Tim Penilai PKK

GETARBABELCOM , BELITUNG– Kedatangan Tim Penilai Lomba Hari Kesatuan Gerak…

POPULER

HUKUM

hipk

IPTEK

drone

TEKNOLOGI