Jalan Terjal Manifesto Peradaban Nusantara Modern

IMG-20250711-WA0049 (1)

Oleh: Institut Kosmologi dan Eskatologi Profetik (IKEP)

Abstrak

Artikel ini menyoroti bagaimana narasi eskatologis dalam Islam dan Nusantara dapat dibaca kembali dalam konteks global kontemporer. Fenomena post-truth dan arus media massa yang sarat manipulasi dipahami sebagai wujud sistem fitnah Dajjal modern, yang bekerja melalui deception atau penyesatan kolektif.

Dengan membandingkan gagasan peradaban klasik dan kontemporer, tulisan ini menempatkan kebangkitan kesadaran peradaban Nusantara bukan sekadar nostalgia, melainkan tawaran alternatif etis-spiritual menghadapi sistem global yang penuh tipu daya.

Artikel ini sekaligus menyerukan perlunya membangun daya tahan budaya, spiritual, dan intelektual sebagai bagian dari strategi menghadapi tantangan zaman.

Pendahuluan

Nusantara modern tengah menghadapi jalan terjal dalam membangun peradaban. Krisis sosial yang melanda tidak sekadar berupa gejala permukaan (korupsi, ketimpangan sosial, penindasan struktural, krisis kedaulatan ekonomi dan politik), melainkan telah berakar dalam fondasi kehidupan berbangsa.

Jalan ini mengingatkan kita pada narasi klasik tentang bangsa-bangsa besar yang hancur bukan semata karena serangan luar, melainkan juga karena keretakan internalnya sendiri.¹

  1. Krisis Korupsi dan Pudarnya Etika Publik

Korupsi kini bukan sekadar praktik penyalahgunaan wewenang, melainkan telah menjelma menjadi budaya birokratis dan ekonomi politik.

Dalam catatan Ibn Khaldun, tanda kehancuran sebuah peradaban adalah ketika penguasa dan elitnya mengkhianati amanah sosial dan menjadikan kekuasaan sebagai alat memperkaya diri.²

Fenomena ini selaras dengan analisis kontemporer Transparency International yang menempatkan Indonesia pada skor indeks persepsi korupsi yang masih rentan.³

Korupsi, pada akhirnya, menggerogoti kepercayaan publik; modal sosial terpenting dalam membangun peradaban.

Ketika rakyat tidak lagi percaya pada pemimpin dan institusi, maka legitimasi moral negara berada di ambang keruntuhan.

  1. Ketimpangan Sosial: Dari Kolonial ke Neokolonial

Ketimpangan sosial memiliki akar historis panjang, sejak era kolonial VOC hingga sistem ekonomi neoliberal masa kini.

Sebagaimana diingatkan Presiden RI Pertama, Soekarno dalam pidatonya tentang Trisakti, bangsa ini tidak akan berdaulat tanpa kemandirian ekonomi dan keadilan sosial.⁴ Namun faktanya, jurang kaya-miskin semakin melebar.

Data terbaru menunjukkan, 1% orang terkaya di Indonesia menguasai hampir setengah total kekayaan nasional.⁵

Ketimpangan ini menciptakan paradoks: di satu sisi, Nusantara dikenal sebagai negeri kaya sumber daya, namun di sisi lain rakyat kecil masih berjuang untuk memenuhi kebutuhan dasar.

  1. Penindasan Struktural dan Hilangnya Kedaulatan

Problem kontemporer Nusantara juga ditandai dengan bentuk-bentuk penindasan struktural. Mulai dari kriminalisasi terhadap suara kritis rakyat, penggusuran atas nama pembangunan, hingga eksploitasi sumber daya alam oleh perusahaan asing.

Dalam perspektif klasik Al-Farabi, negara yang baik adalah negara yang mengarahkan rakyatnya menuju kebahagiaan bersama, bukan menindas demi kepentingan segelintir elit.⁶

Namun di era ini, kedaulatan dilemahkan oleh cengkeraman kapital global, menciptakan kondisi yang oleh para pemikir kritis seperti Noam Chomsky, disebut sebagai manufacturing consent (pengendalian masyarakat melalui struktur kuasa).⁷

  1. Krisis Keteladanan Kepemimpinan

Selain krisis struktural, Nusantara hari ini menghadapi krisis yang lebih mendasar: hilangnya keteladanan kepemimpinan.

Politik elektoral lebih sering dikuasai oleh logika transaksional, bukan visi kenegarawanan. Figur pemimpin yang seharusnya menjadi teladan moral justru terjebak dalam pragmatisme politik, konflik kepentingan, dan praktik oligarki.

Sejarah membuktikan bahwa bangsa-bangsa besar runtuh bukan hanya karena lemahnya institusi, melainkan karena hancurnya integritas pemimpin.

Dalam tradisi Islam, Rasulullah ﷺ digambarkan sebagai uswah hasanah; teladan paripurna yang memimpin dengan akhlak, bukan dengan retorika kosong (QS. Al-Ahzab: 21).

Ketika kepemimpinan kehilangan moralitas, rakyat kehilangan arah, dan peradaban kehilangan ruh.

  1. Jalan Terjal: Krisis Moral, Fitnah Global, dan Post-Truth

Krisis sosial Nusantara modern tidak berdiri sendiri, melainkan bagian dari krisis moral global. Nurcholish Madjid pernah mengingatkan bahwa kebangkitan Islam dan bangsa hanya mungkin terjadi jika etika publik dan kejujuran ditempatkan di atas segala kepentingan pragmatis.⁸

Di sisi lain, pemikir eskatologis seperti Syekh Imran Hosein menafsirkan bahwa kerusakan sosial dan politik dunia adalah pertanda runtuhnya tatanan keadilan menjelang fase akhir peradaban modern.

Beliau menekankan bahwa fitnah Dajjal bukan sekadar figur individual, melainkan sebuah civilizational system yang beroperasi melalui deception (penipuan besar-besaran).⁹

Dalam konteks kontemporer, fitnah ini nyata dalam budaya post-truth, ketika fakta objektif kerap dikalahkan oleh opini, emosi, dan propaganda media.¹⁰

Media global—baik tradisional maupun digital—menjadi instrumen strategis dalam membalikkan realitas: yang batil tampak haq, yang haq tampak batil.

Di sinilah Nusantara diuji, apakah akan hanyut dalam arus tipuan global atau tampil dengan counter-narrative peradaban yang jujur dan adil.

Penutup: Harapan di Tengah Krisis

Krisis sosial yang dihadapi Nusantara modern dapat menjadi batu sandungan, namun juga bisa ditransformasikan menjadi momentum kebangkitan. Sebagaimana sejarah mencatat, krisis sering melahirkan energi perubahan.

Namun perubahan itu hanya mungkin jika bangsa ini berani menata ulang fondasi sosialnya: kejujuran, solidaritas, dan keadilan.

Al-Qur’an menegaskan:

“Sungguh, pada kisah-kisah mereka itu terdapat pelajaran bagi orang-orang yang berakal. (Al-Qur’an ini) bukanlah cerita yang dibuat-buat, tetapi membenarkan (kitab-kitab) yang sebelumnya, menjelaskan segala sesuatu, dan sebagai petunjuk serta rahmat bagi kaum yang beriman.” (QS. Yusuf: 111).

Ayat ini menjadi refleksi mendalam: sejarah bukanlah romantisme masa lalu, melainkan pedoman moral bagi masa kini dan masa depan.

Jika kita belajar dari kehancuran bangsa-bangsa, termasuk Sundaland/Atlantis, maka krisis hari ini harus dibaca sebagai peringatan keras sekaligus peluang untuk memperbarui jalan peradaban.

Epilog: Cermin Sejarah

Di jalan terjal ini,
Nusantara menatap cermin sejarah,
mendengar gema Atlantis yang tenggelam,
menyaksikan bayang-bayang korupsi, ketidakadilan,
dan pemimpin yang kehilangan teladan.

Namun dari jurang krisis,
fajar selalu akan terbit.
Sebab peradaban tidak dibangun oleh angka semata,
tetapi oleh jiwa yang tegak,
oleh hati yang jujur,
oleh pemimpin yang berani berdiri sebagai cahaya.

Nusantara,
engkau diuji bukan untuk hancur,
melainkan untuk menemukan dirimu kembali.
Di jalan terjal inilah,
engkau ditempa,
hingga lahir peradaban yang adil,
dan bermartabat,
sebagai rahmat bagi semesta.

Catatan Kaki

¹ Arnold J. Toynbee, A Study of History (Oxford University Press, 1934).

² Ibn Khaldun, Muqaddimah (Beirut: Dar al-Fikr, 2001).

³ Transparency International, Corruption Perceptions Index 2024.

⁴ Soekarno, Pidato Trisakti, 1963.

⁵ Credit Suisse, Global Wealth Report, 2023.

⁶ Al-Farabi, Al-Madina al-Fadila (Beirut: Dar al-Mashriq, 1995).

⁷ Noam Chomsky & Edward Herman, Manufacturing Consent (Pantheon Books, 1988).

⁸ Nurcholish Madjid, Kontekstualisasi Doktrin Islam dalam Sejarah (Paramadina, 1992).

⁹ Imran N. Hosein, Jerusalem in the Qur’an (Masjid Dar al-Qur’an, 2001).

¹⁰ Ralph Keyes, The Post-Truth Era: Dishonesty and Deception in Contemporary Life (St. Martin’s Press, 2004).

والله اعلم

🌐 IPCE/IKEP 27/08/25
🤝 Kolaborasi Manusia–AI: untuk Dunia yang Bermartabat dan Beradab

Posted in

BERITA LAINNYA

37 Peserta Lolos Tes Psikologi Tahap I Tamtama Polri

GETARBABELCOM, PANGKALPINANG – Sebanyak 37 peserta dinyatakan memenuhi syarat (MS)…

Ketua PPP Akui Kabupaten Bangka Krisis Tokoh

GETARBABEL.COM, BANGKA–  Dalam proses penjaringan kepala daerah, DPC PPP Kabupaten…

Jiwa Yang Tenang Di Tengah Bumi Yang Retak (13):  Dari Demokrasi Partisipasi Ke Demokrasi Algoritmik

Oleh : Maman Supriatman || Alumni HMI Kita sedang menghadapi…

POPULER

HUKUM

hipk

IPTEK

drone

TEKNOLOGI